Festival Ayam Bambu Warnai Kulawi, Angkat Citra Kuliner dan Budaya Lokal

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sigi melalui Dinas Pariwisata kembali menghadirkan Festival Ayam Bambu di Kecamatan Kulawi. (Foto:JOURNALRAKYAT)

JOURNALRAKYAT.COM, SIGI – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sigi melalui Dinas Pariwisata kembali menghadirkan Festival Ayam Bambu di Kecamatan Kulawi. Gelaran yang berlangsung selama dua hari, Jumat hingga Sabtu (29/11/2025), ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk memperkenalkan kekayaan kuliner tradisional sekaligus memperkuat identitas budaya Kulawi Raya.

Selama festival berlangsung, masyarakat dan tamu undangan dipersilakan menikmati sajian ayam bambu secara gratis sebagai bentuk kebersamaan dan penghormatan terhadap tradisi lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Ayam bambu sendiri merupakan kuliner khas leluhur dari empat kecamatan, yaitu Pipikoro, Kulawi, Kulawi Selatan, dan Lindu. Meski dikenal dengan nama yang sama, setiap wilayah memiliki racikan dan ciri khas masing-masing. Pipikoro bahkan tercatat sebagai daerah dengan varian ayam bambu terbanyak.

Di wilayah Pipikoro, terdapat empat varian resep yang berbeda. Varian pertama dimasak tanpa bawang dan penyedap tambahan, hanya mengandalkan garam, daun serai, dan daun lemon. Varian kedua menggunakan batang pisang muda sebagai campuran, lengkap dengan bawang merah dan bawang putih.

Varian ketiga memadukan daun ubi dengan bumbu dasar rica dan bawang. Sementara varian keempat menggunakan potongan ubi sebagai campuran utama, menjadikan cita rasanya semakin unik dan mengenyangkan.

Proses memasaknya pun tetap dilakukan dengan cara tradisional. Bumbu dicampur dengan potongan ayam, kemudian dimasukkan ke dalam bambu dan ditutup rapat menggunakan daun pisang sebelum dibakar di atas bara api. Untuk wilayah Pipikoro, tambahan ubi di dalam bambu menjadi pembeda utama dibandingkan racikan dari daerah lainnya.

Sementara itu, Kulawi, Kulawi Selatan, dan Lindu umumnya mempertahankan satu varian rasa yang dianggap sebagai cita rasa asli ayam bambu. Racikannya tetap natural tanpa penyedap, hanya memadukan bawang, rica, dan garam.

Khusus di Lindu, sajian ayam bambu biasanya disantap bersama pulut hitam yang dimasak menggunakan santan dan garam sehingga memberikan sensasi rasa yang lebih lengkap dan kaya.

Dalam sambutannya, Bupati Sigi menegaskan bahwa festival ini bukan sekadar perayaan kuliner, tetapi juga representasi kearifan lokal dan identitas budaya masyarakat Kulawi Raya yang masih terjaga kuat hingga kini.

“Ayam bambu adalah kuliner khas yang diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur kita. Proses memasaknya yang unik di dalam bambu tidak hanya menghasilkan cita rasa khas, tetapi juga menggambarkan kedekatan masyarakat dengan alam,” ujar Bupati.

Bupati juga menilai bahwa Festival Ayam Bambu merupakan sarana penting untuk memperkenalkan potensi kuliner lokal kepada masyarakat luas maupun wisatawan.

Ia mendorong agar ayam bambu dapat dipromosikan sebagai identitas kuliner khas Sigi hingga ke tingkat nasional.

Selain itu, Bupati mengajak pelaku UMKM untuk terus berinovasi dalam penyajian dan pemasaran agar kuliner tradisional ini memiliki nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.

Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam melestarikan teknik memasak tradisional tersebut, sehingga kearifan lokal ini dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Ke depan, kami berharap festival ini dapat dikembangkan menjadi agenda tahunan agar semakin banyak wisatawan yang datang, sekaligus memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat Kulawi Raya,” tambahnya.

Festival Ayam Bambu turut dihadiri pimpinan OPD, Ketua dan Anggota DPRD Kabupaten Sigi, serta jajaran Forkopimda yang memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan budaya dan pariwisata lokal. (Ag)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *