JOURNALRAKYAT.COM, PALU – Kedatangan Dr. Peter Youngren, seorang duta perdamaian dan penyembuhan internasional, ke Kota Palu, Sulawesi Tengah, menuai berbagai tanggapan.
Sejumlah organisasi masyarakat (ormas) Islam yang tergabung dalam Aliansi Umat Islam Sulawesi Tengah menolak pelaksanaan Festival Persahabatan yang menghadirkan Dr. Youngren sebagai pembicara utama.
Festival Persahabatan dijadwalkan berlangsung pada 30 Januari 2025 pukul 17.00 WITA di Gelora Bumi Kaktus (GBK), Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Talise, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu.
Menanggapi polemik yang muncul, Dr. Peter Youngren menyatakan bahwa dirinya tidak pernah menganggap para demonstran sebagai pihak yang jahat.
“Saya yakin mereka melakukan protes dengan tulus berdasarkan keyakinan mereka. Namun, saya juga berpikir bahwa mereka belum mengenal saya secara benar. Mungkin mereka membandingkan saya dengan pendeta-pendeta lain yang pernah mereka dengar,” ujar Dr. Youngren dalam konferensi pers di Palu, Rabu (29/1/2024).
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa dirinya tidak pernah menganggap satu agama lebih baik dari agama lainnya.
“Di mana pun saya berada, saya tidak pernah berpikiran seperti itu. Saya percaya pada kebebasan beragama, dan sebagaimana mereka bebas untuk memprotes, kami juga memiliki izin resmi untuk menyelenggarakan Festival Persahabatan ini,” tambahnya.
Dr. Youngren menegaskan bahwa festival ini telah mendapatkan persetujuan dari pemerintah setempat.
“Pemerintah memiliki otoritas untuk memberikan izin, dan kami hanya datang untuk melayani. Oleh karena itu, acara ini tetap akan dilaksanakan sesuai izin yang telah diberikan,” katanya.
Menurut Dr. Youngren, tujuan utama Festival Persahabatan adalah menyampaikan pesan tentang kasih Tuhan yang universal dan tanpa diskriminasi.
“Kasih Tuhan sangat penting bagi kesehatan mental, keberhasilan, dan kehidupan yang damai. Jika kita memandang Tuhan sebagai sosok pemarah, itu akan memengaruhi cara kita menjalani hidup,” ungkapnya.
Festival ini disebut-sebut telah mendapat perhatian dari berbagai pemimpin dunia, termasuk kepala negara dan tokoh-tokoh dari berbagai budaya, yang sebelumnya mengundang Dr. Youngren untuk mengadakan acara serupa di negara lain.
Dalam konferensi pers, Dr. Youngren membuka kesempatan bagi wartawan untuk mengajukan pertanyaan langsung mengenai festival ini.
Ia menegaskan bahwa Festival Persahabatan terbuka bagi semua orang, tanpa ada batasan kelompok tertentu.
“Saya tidak pernah membatasi siapa yang boleh hadir di acara saya. Di seluruh dunia, saya selalu menyambut siapa pun yang ingin datang. Dalam demokrasi, setiap orang punya hak yang sama untuk menentukan pilihannya. Saya juga tidak ingin memaksa siapa pun,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa perbedaan adalah hal yang wajar, namun tetap harus dihormati.
“Kita semua memiliki banyak perbedaan, tetapi kita bisa tetap menghargai satu sama lain. Saya tidak mengatakan bahwa semua agama sama, tetapi kita harus bersikap dewasa dalam menyikapi perbedaan ini,” ujarnya.
Menutup pernyataannya, Dr. Youngren berbicara tentang keyakinannya terhadap mukjizat dan penyembuhan.
“Ketika terjadi mukjizat atau kesembuhan, saya tidak merasa memiliki kekuatan khusus. Saya hanya berdoa dan menyaksikan keajaiban terjadi. Segala kemuliaan hanya milik Tuhan,” pungkasnya. (*)






