JOURNALRAKYAT.COM, PALU — Founder Hannah Asa Indonesia, Mardiyah, membagikan refleksi perjalanan gerakan literasi keuangan yang ia dirikan tiga tahun lalu. Gerakan tersebut lahir dari niat pribadi yang sangat mendalam, yakni menjadikan edukasi keuangan sebagai bentuk amal jariyah untuk almarhumah ibunya.
Mardiyah mengungkapkan bahwa nama Hannah dipilih sebagai bentuk penghormatan kepada sang ibu sekaligus harapan agar setiap ilmu yang dibagikan melalui gerakan tersebut menjadi kebaikan yang terus mengalir.
“Banyak orang bertanya kenapa memilih nama Hannah. Jawaban saya sederhana, saya ingin setiap pengetahuan yang dibagikan melalui gerakan ini menjadi amal jariyah, sebuah aliran kebaikan yang terus memberikan pahala untuk ibu saya di akhirat,” ujarnya dalam refleksi kegiatan Smart Financial Journey Bootcamp Batch 60.
Dari niat tersebut, lahirlah komunitas Hannah Asa Indonesia yang dibangun dari Sulawesi Tengah dengan keyakinan bahwa literasi keuangan mampu membawa perubahan bagi masa depan generasi muda.
Menurut Mardiyah, masih banyak anak muda yang menghadapi persoalan dalam pengelolaan keuangan, mulai dari terjebak pinjaman online ilegal, belum memahami cara mengelola gaji pertama, hingga kurang mengenal investasi yang sehat dan prinsip keuangan syariah.
Padahal, kata dia, keputusan finansial yang dibuat pada usia muda dapat memengaruhi kehidupan seseorang dalam jangka waktu yang panjang.
“Karena itu kami memulai dari sesuatu yang sederhana, yaitu edukasi. Kami percaya literasi keuangan adalah fondasi penting bagi generasi muda untuk mengambil keputusan yang lebih bijak,” katanya.
Ia menyebutkan, dalam tiga bulan pertama tahun 2026, komunitas Hannah Asa Indonesia telah menyelenggarakan 46 program edukasi literasi keuangan yang dilaksanakan di sekolah, kampus, komunitas, serta ruang digital.
Program tersebut berhasil menjangkau 3.231 peserta melalui berbagai metode pembelajaran, baik secara luring maupun daring.
Mardiyah menuturkan bahwa seluruh kegiatan tersebut dijalankan dengan sumber daya yang terbatas. Meski demikian, semangat relawan dan dukungan komunitas menjadi kekuatan utama dalam mengembangkan gerakan tersebut.
“Kami tidak memiliki kantor besar atau tim yang besar. Tetapi kami memiliki relawan, komunitas yang terus bertumbuh, serta keyakinan bahwa pendidikan keuangan harus menjangkau mereka yang paling membutuhkan,” jelasnya.
Ia menambahkan, tahun 2026 menjadi tahun fondasi bagi Hannah Asa Indonesia dalam membangun gerakan literasi keuangan yang lebih luas dan berkelanjutan.
Mardiyah meyakini bahwa gerakan besar tidak selalu lahir dari kota besar, melainkan dapat dimulai dari ruang kelas kecil, komunitas sederhana, dan orang-orang yang percaya bahwa perubahan itu mungkin terjadi.
“Di balik nama gerakan ini, ada doa seorang anak untuk ibunya. Harapan saya, setiap orang yang belajar literasi keuangan melalui Hannah Asa dapat menjadi bagian dari rantai kebaikan yang terus mengalir,” tuturnya. (*)






