MIRIS! Jenazah Mantan Kades Masewo di Pipikoro Sigi Terpaksa Diangkut Pakai Ojek

Warga membantu mengangkut jenazah almarhum Benyamin Noa, mantan Kepala Desa Masewo dua periode, menggunakan sepeda motor di tengah keterbatasan akses jalan di wilayah Pipikoro Timur, Kabupaten Sigi. (Foto/ist)

JOURNALRAKYAT.COM, SIGI – Kondisi akses jalan di wilayah Pipikoro Timur, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, kembali menjadi sorotan setelah jenazah Benyamin Noa, mantan Kepala Desa (Kades) Masewo dua periode, harus diangkut menggunakan ojek warga karena jalan poros Gimpu–Kalamanta belum dapat dilalui kendaraan roda empat, Rabu (14/10/2026).

Peristiwa tersebut menggambarkan sulitnya akses transportasi yang masih dihadapi masyarakat di wilayah Pipikoro Timur. Bahkan, dalam situasi duka sekalipun, warga harus mengandalkan kendaraan roda dua untuk membantu proses pengangkutan jenazah.

Bacaan Lainnya

Informasi mengenai kejadian itu dibagikan melalui media sosial  Facebook oleh Eflinda Dewi. Dalam unggahannya, ia meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sigi dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Tengah memberikan perhatian khusus terhadap kondisi infrastruktur jalan di wilayah tersebut.

Menurutnya, pembangunan jalan yang layak sangat dibutuhkan masyarakat, terutama di daerah yang masih mengalami keterbatasan akses transportasi.

Ia juga menyinggung program Berani Lancar yang diusung Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah agar dapat menjawab persoalan infrastruktur jalan yang masih menyulitkan warga, khususnya di wilayah Pipikoro bagian timur.

Hal senada disampaikan Ivana, yang kerap berkunjung ke wilayah Pipikoro. Ia mengaku prihatin dengan kondisi akses jalan yang masih menyulitkan masyarakat, terutama ketika menghadapi situasi darurat.

Menurutnya, kejadian serupa sudah sering terjadi, bahkan warga yang sakit terkadang harus digotong untuk mendapatkan pertolongan medis karena akses jalan yang hanya berupa jalan setapak dan dapat dilalui kendaraan roda dua.

“Bukan kali ini saja kejadian seperti ini terjadi. Kalau ada warga yang sakit, terkadang harus digotong karena akses jalan hanya berupa jalan setapak yang bisa dilalui kendaraan roda dua. Kami berharap pemerintah bisa melihat langsung kondisi yang dialami masyarakat di wilayah ini,” ujar Ivana.

Kondisi tersebut membuat masyarakat harus menghadapi kesulitan tambahan ketika membutuhkan layanan kesehatan. Akses yang terbatas juga berpotensi menghambat mobilitas warga, distribusi kebutuhan pokok, serta aktivitas ekonomi masyarakat.

Peristiwa yang dialami keluarga almarhum Benyamin Noa menjadi pengingat bahwa akses jalan bukan sekadar persoalan pembangunan fisik, melainkan kebutuhan mendasar masyarakat untuk mendapatkan pelayanan dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih mudah.

Masyarakat berharap Pemkab Sigi bersama Pemprov Sulawesi Tengah memberikan perhatian serius terhadap kondisi jalan poros Gimpu–Kalamanta. Penanganan dan peningkatan infrastruktur di wilayah Pipikoro Timur diharapkan menjadi bagian dari prioritas pembangunan agar masyarakat tidak terus menghadapi kesulitan akibat keterbatasan akses transportasi.

Program Berani Lancar juga diharapkan dapat menjangkau wilayah-wilayah yang masih mengalami persoalan akses jalan, termasuk daerah terpencil yang membutuhkan peningkatan konektivitas.

Hingga berita ini diterbitkan, belum terdapat keterangan resmi dari pemerintah daerah mengenai kondisi terkini jalan poros Gimpu–Kalamanta, langkah penanganan yang telah dilakukan, maupun rencana perbaikannya. (***)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *