Gubernur Sulteng Tegaskan Festival Persahabatan Hanya untuk Kalangan Nasrani, Ajak Jaga Toleransi Beragama

JOURNALRAKYAT.COM, SIGI – Gubernur Sulawesi Tengah, Rusdy Mastura, memberikan penjelasan mengenai pelaksanaan Festival Persahabatan yang rencananya akan digelar di Gedung Gelora Bumi Kaktus (GBK), Jalan Yos Sudarso, pada 30 Januari hingga 2 Februari 2025 mendatang.

Dalam audiensi dengan perwakilan massa aksi yang menggelar unjuk rasa di depan Kantor Gubernur Sulteng, Kamis (30/1/2024) petang, Gubernur Rusdy Mastura meminta agar panitia festival tidak mengundang secara umum, melainkan khusus untuk kalangan Nasrani.

Bacaan Lainnya

“Yang paling dihindari oleh umat Islam adalah misi. Kita semua ingin menjaga toleransi beragama, dan mari kita bersama-sama menjaga keharmonisan di Sulteng ini,” ujar Rusdy Mastura.

Pernyataan tersebut disampaikan untuk menanggapi kekhawatiran yang muncul di tengah masyarakat, khususnya dari kalangan umat Islam, terkait pelaksanaan festival yang dinilai berpotensi menimbulkan ketegangan.

Rusdy Mastura menegaskan bahwa dirinya tidak berada di pihak manapun dalam hal ini dan memilih untuk mencari solusi yang dapat menjaga kedamaian dan keharmonisan.

“Saya mencari jalan keluar yang bukan hanya berdasarkan semangat yang dipanas-panasi orang, tetapi juga harus menjunjung tinggi akhlak. Rasulullah datang untuk memperbaiki akhlak umat manusia,” katanya.

Gubernur juga mengungkapkan bahwa dalam waktu dekat, ia akan mengundang panitia Festival Persahabatan untuk mengingatkan mereka agar acara tersebut hanya ditujukan bagi kalangan Nasrani, mengingat sensitivitas yang ada dalam masyarakat.

“Saya akan mengingatkan mereka agar acara ini hanya untuk kalangan mereka sendiri, agar tidak menimbulkan perpecahan,” tambahnya.

Sebelumnya, ratusan massa aksi yang tergabung dalam Aliansi Umat Islam dan Forum Umat Islam Sulteng melakukan aksi unjuk rasa menuntut Gubernur Rusdy Mastura untuk mengambil sikap tegas terkait terselenggaranya Festival Persahabatan di Gedung GBK.

Mereka mengungkapkan keprihatinan mereka terkait acara yang dianggap bisa menantang sensitivitas umat Islam, terutama terkait dengan kedatangan pendeta Peter Youngren, yang menjadi sorotan dalam acara tersebut.

Pada konferensi pers yang diadakan pada Rabu (29/1/2024) malam, pendeta Peter Youngren menegaskan bahwa Festival Persahabatan tetap akan dilaksanakan sesuai jadwal dan akan terbuka untuk semua kalangan, tanpa memandang suku, ras, atau agama.

“Festival ini adalah untuk semua orang. Tidak ada pembatasan berdasarkan latar belakang agama atau etnis. Kami ingin membangun persahabatan dan kerukunan,” kata Peter Youngren.

Namun, pernyataan tersebut semakin memicu kekhawatiran kalangan umat Islam di Sulawesi Tengah, yang merasa bahwa acara tersebut dapat merusak akidah mereka, terutama bagi mereka yang secara ekonomi dan pemahaman agama mungkin lebih rentan.

Para pengunjuk rasa mengkhawatirkan bahwa ajakan terbuka untuk umum, tanpa batasan, bisa mempengaruhi pandangan umat Islam yang masih lemah dalam pemahaman akidah.

Dalam orasinya, Koordinator Lapangan Aliansi Umat Islam, Alif Veraldi, menyoroti beberapa poin yang dianggap memicu ketegangan.

“Sebelum adanya baliho Festival Persahabatan dan kedatangan pendeta Peter Youngren, juga beredar video yang menyebutkan bahwa festival ini didukung oleh FKUB, MUI, dan Alkhairaat, yang merupakan organisasi besar di wilayah Timur Indonesia. Video tersebut juga menyebutkan bahwa hanya ada sekelompok kecil radikal yang menentang acara ini,” jelas Alif.

Hal ini, menurut Alif, memicu gejolak dan kegaduhan di kalangan umat Islam, yang merasa tidak diberi ruang untuk menyuarakan kekhawatiran mereka terhadap dampak acara tersebut.

“Kami merasa ketidakadilan jika festival ini tetap dilaksanakan tanpa mempertimbangkan potensi dampaknya terhadap masyarakat,” tambahnya.

Keprihatinan ini pun berlanjut dengan seruan agar pemerintah segera memberikan penjelasan yang lebih tegas mengenai sikapnya terhadap acara tersebut, guna meredakan keresahan yang ada di kalangan umat Islam di Sulawesi Tengah.

“Kami hanya ingin menjaga keharmonisan dan saling menghormati dalam kehidupan beragama di daerah ini,” pungkas Alif. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *