Bunda Literasi Sigi Ajak Generasi Muda Abadikan Budaya Lewat Tulisan

JOURNALRAKYAT.COM, SIGI – Bunda Literasi Kabupaten Sigi, Siti Halwiah, mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menjadikan kegiatan menulis sebagai bagian dari upaya menjaga identitas dan melestarikan kekayaan budaya daerah.

Bacaan Lainnya

Ajakan tersebut disampaikannya saat membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Kepenulisan Berbasis Konten Budaya Lokal yang diselenggarakan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sigi di Auditorium Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sulawesi Tengah, Desa Maku, Kecamatan Dolo, Senin (20/7).

Menurut Siti Halwiah, literasi tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga sebagai proses mengolah pengetahuan, mendokumentasikan pengalaman, serta mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi penerus.

“Di era digital seperti sekarang, tulisan menjadi salah satu cara paling efektif untuk menjaga identitas budaya agar tetap hidup, dikenal, dan dipelajari oleh masyarakat luas,” ujarnya.

Ia menilai Kabupaten Sigi memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam, mulai dari adat istiadat, tradisi, bahasa daerah, cerita rakyat, kesenian, kuliner, hingga berbagai bentuk kearifan lokal yang menjadi identitas masyarakat.

Namun, menurutnya, kekayaan tersebut akan semakin rentan terlupakan apabila tidak didokumentasikan dalam bentuk karya tulis yang berkualitas.

Karena itu, Siti mengapresiasi pelaksanaan Bimtek Kepenulisan Berbasis Konten Budaya Lokal yang dinilai menjadi langkah strategis dalam memperkuat budaya literasi sekaligus melestarikan warisan budaya daerah.

“Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya belajar teknik menulis, tetapi juga membangun kesadaran bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab untuk mengangkat dan memperkenalkan identitas daerahnya melalui karya tulis,” katanya.

Ia berharap pelatihan tersebut mampu melahirkan penulis-penulis baru yang percaya diri menghasilkan karya berbasis budaya lokal Kabupaten Sigi.

Menurutnya, hasil dari bimbingan teknis itu juga diharapkan tidak berhenti sebagai naskah latihan, tetapi berkembang menjadi buku, dokumentasi budaya, biografi tokoh daerah, cerita rakyat, hingga bahan bacaan anak yang dapat memperkaya koleksi perpustakaan.

Selain itu, Siti mengajak seluruh peserta menjadi agen literasi di lingkungan masing-masing dengan menularkan semangat membaca dan menulis kepada keluarga, sekolah, komunitas, hingga masyarakat luas.

“Kemajuan sebuah daerah tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur, tetapi juga oleh kemampuan masyarakatnya menjaga identitas, pengetahuan, dan budayanya. Melalui tulisan, kita merawat ingatan, memperkuat jati diri, serta meninggalkan warisan intelektual yang bernilai bagi generasi mendatang,” tegasnya.

Ia optimistis, melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, perpustakaan, sekolah, perguruan tinggi, komunitas literasi, media, dan masyarakat, Kabupaten Sigi dapat membangun ekosistem kepenulisan yang berkelanjutan sekaligus melahirkan lebih banyak penulis kreatif yang mengangkat kekayaan budaya lokal. (***)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *