BMKG Gelar Sekolah Lapang Gempabumi di Sigi, Dorong Masyarakat Lebih Siaga Hadapi Bencana

Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Palu Djati Cipto Kuncoro saat memberikan penjelasan dalam kegiatan Sekolah Lapang Gempabumi (SLG) Tahun 2026 di Aula Kantor Bupati Sigi, Selasa (1/9/2026). Kegiatan ini menjadi upaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dan stakeholder dalam menghadapi potensi gempabumi dan tsunami. (Foto/Journalrakyat)

JOURNALRAKYAT.COM, SIGI – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Geofisika Kelas I Palu menggelar kegiatan Sekolah Lapang Gempabumi (SLG) Tahun 2026 di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Selasa (1/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Aula Kantor Bupati Sigi, Desa Bora, Kecamatan Sigi Kota, tersebut menjadi bagian dari upaya BMKG memperkuat koordinasi bersama pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan dalam mewujudkan masyarakat yang siaga menghadapi ancaman gempabumi dan tsunami.

Bacaan Lainnya

Mengusung tema “Pahami Potensi dan Aksi Cepat Hadapi Gempabumi dan Tsunami Menuju Indonesia Emas 2045”, kegiatan tersebut tidak hanya diisi dengan penyampaian materi, tetapi juga melibatkan peserta dalam berbagai simulasi kebencanaan.

Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Palu, Djati Cipto Kuncoro, mengatakan Kabupaten Sigi dan Sulawesi Tengah secara umum merupakan wilayah yang memiliki tingkat kerawanan terhadap bencana gempabumi.

Menurutnya, pengalaman bencana pada 2018 menjadi pembelajaran penting bagi masyarakat Sulawesi Tengah. Saat itu, gempa kuat mengguncang wilayah Palu, Donggala, Sigi dan sekitarnya yang kemudian diikuti tsunami serta fenomena likuifaksi di sejumlah wilayah.

“Dan kami melaksanakan Sekolah Lapang Gempa Nasional ini, Sekolah Lapang Gempabumi, adalah menjadi prioritas nasional dari BMKG dan menjadi program yang sudah terlaksana kurang lebih lima sampai dengan enam tahun,” ujar Cipto saat diwawancarai awak media di Bora.

Ia menjelaskan, kegiatan tersebut dirancang untuk meningkatkan kapasitas berbagai kelompok masyarakat, mulai dari unsur pemerintah, tenaga pendidik hingga masyarakat umum.

“Harapannya adalah kami melatih beberapa peserta, baik itu dari instansi pemerintah, kemudian pengajar, dan kemudian mungkin masyarakat umum,” katanya.

Cipto menegaskan, kesiapsiagaan menjadi hal penting karena bencana gempabumi dapat terjadi kapan saja tanpa mengenal waktu.

“Kita tidak pernah tahu gempa bumi itu terjadi di pagi hari, siang, atau malam. Sehingga kami mengharapkan kesiapsiagaan dari masyarakat sebelum terjadi, saat terjadi, dan setelah terjadi bencana gempa bumi itu benar-benar masyarakat sudah semakin siap,” jelasnya.

Selain memberikan edukasi mengenai mitigasi dan kesiapsiagaan, BMKG juga terus memperkuat pemantauan aktivitas kegempaan di wilayah Sigi.

Ia menyebutkan, terdapat sejumlah peralatan pemantauan gempabumi yang ditempatkan di wilayah Sigi dan dapat mendukung pemantauan aktivitas gempa oleh BMKG.

“Di Sigi khususnya, ada kurang lebih dua sampai tiga alat. Jadi alat yang saat memang terjadi gempa, itu bisa termonitor di kantor kita,” ujarnya.

Sekolah Lapang Gempabumi tersebut melibatkan berbagai unsur yang memiliki peran penting dalam penanganan bencana.

Peserta berasal dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Basarnas, pemadam kebakaran, Dinas Sosial, TNI, Polri, Puskesmas, ORARI, RAPI, PMI, perangkat desa, siswa SMP dan SMA, UIN Datokarama, Tagana Sigi, media massa serta sejumlah stakeholder terkait lainnya.

Kegiatan diawali dengan pembukaan dan petunjuk keselamatan sebelum peserta mendapatkan pembekalan mengenai kesiapsiagaan menghadapi gempabumi.

Peserta kemudian mengikuti praktik langsung melalui Simulasi Gempabumi Kuat (Earthquake Drill). Selain itu, dilakukan pula peresmian papan informasi publik dan penyajian peta skenario tingkat guncangan sebagai bagian dari upaya meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap potensi dampak gempa.

Dalam kegiatan tersebut, peserta juga dibekali materi mengenai “Kesiapsiagaan Menghadapi Gempabumi” serta “Produk Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami”.

Memasuki sesi kedua, peserta mengikuti Simulasi di Atas Meja atau Table Top Exercise (TTX) dan evaluasi.

Dalam simulasi tersebut, peserta dibagi ke dalam sejumlah kelompok, yakni kelompok masyarakat, kelompok sekolah, kelompok BPBD, kelompok aparat, kelompok SKPD terkait dan kelompok media.

Masing-masing kelompok memiliki fasilitator dan menjalankan peran sesuai kapasitasnya dalam merespons skenario kejadian gempabumi kuat.

Melalui TTX, peserta dilatih untuk mengambil keputusan, membangun koordinasi, menyampaikan informasi serta menentukan langkah yang harus dilakukan ketika terjadi bencana.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan evaluasi TTX dan simulasi singkat gempabumi, sebelum peserta mengikuti post test untuk mengukur pemahaman terhadap materi yang telah diberikan.

Pada sesi terakhir, peserta bersama fasilitator menyusun rekomendasi yang berkaitan dengan penguatan kapasitas dalam mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi bencana gempabumi.

BMKG berharap pelaksanaan Sekolah Lapang Gempabumi tidak berhenti pada kegiatan pelatihan semata, tetapi mampu meningkatkan kesiapan seluruh unsur di daerah sehingga masyarakat dapat mengetahui apa yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah gempabumi terjadi.

Dengan pengalaman bencana yang pernah terjadi di Sulawesi Tengah, peningkatan kapasitas dan koordinasi antarpemangku kepentingan dinilai menjadi salah satu kunci untuk meminimalkan risiko korban dan kerugian ketika bencana kembali terjadi. (***)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *