JOURNALRAKYAT.COM, SIGI – Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sigi, Henri Kusuma, mengapresiasi pelaksanaan Sekolah Lapang Gempabumi (SLG) Tahun 2026 yang digelar Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Geofisika Kelas I Palu.
Henri menilai kegiatan tersebut sangat penting bagi Kabupaten Sigi yang memiliki potensi ancaman gempabumi. Menurutnya, peningkatan pengetahuan masyarakat menjadi salah satu kunci untuk mengurangi risiko ketika bencana terjadi.
“Kalau untuk Sigi bukan sangat urgen, urgen sekali. Oleh karena itu, apa yang dilakukan hari ini yang diinisiasi oleh BMKG patut kita apresiasi setinggi-tingginya. Dan kalau boleh, sering-sering saja,” ujar Henri saat mengikuti kegiatan di Aula Kantor Bupati Sigi, Desa Bora, Kecamatan Sigi Kota, Selasa (1/9/2026).
Ia mengatakan, edukasi kebencanaan harus terus dilakukan agar masyarakat tidak hanya mengetahui potensi bencana, tetapi juga mampu menyelamatkan diri dan keluarganya.
“Namanya juga sekolah ya, kita sekolah sepanjang umur supaya kita pintar-pintarlah. Kita berharap teman-teman di sini bisa mengenal potensi bencana, bisa menyelamatkan diri, bahkan keluarga,” katanya.
Henri menekankan pentingnya kesiapsiagaan keluarga dalam menghadapi bencana. Menurutnya, pengetahuan mengenai kebencanaan merupakan salah satu bentuk kepedulian terhadap keselamatan keluarga dan lingkungan.
“Tadi di papan sana kita lihat sesuatu pesan yang sangat berharga: diri dan keluarga. Keluarga itu masa depan,” tuturnya.
Ia juga memastikan BPBD Sigi akan terus memperkuat kolaborasi dengan BMKG dan stakeholder terkait untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana.
“Kita akan terus mengembangkan kolaborasi dengan stakeholder yang terkait dengan kebencanaan, secara khusus BMKG, supaya kita senantiasa diperkaya dengan pengetahuan-pengetahuan tentang kebencanaan,” pungkasnya.
Sekolah Lapang Gempabumi 2026 di Sigi mengusung tema “Pahami Potensi dan Aksi Cepat Hadapi Gempabumi dan Tsunami Menuju Indonesia Emas 2045.” Kegiatan tersebut diisi dengan materi, diskusi, serta simulasi untuk meningkatkan kesiapsiagaan peserta menghadapi gempabumi dan tsunami. (***)






