Kinerja Industri Jasa Keuangan Sulteng Stabil, Kredit UMKM Tumbuh 16,69 Persen

JOURNALRAKYAT.COM, PALU – Industri Jasa Keuangan (IJK) di Sulawesi Tengah terus menunjukkan kinerja yang stabil dan positif hingga 30 November 2024.

Laporan terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Tengah mencatat pertumbuhan yang signifikan di sektor perbankan, industri keuangan non-bank (IKNB), dan pasar modal, didorong oleh edukasi inklusi keuangan serta perlindungan konsumen yang berkelanjutan.

Bacaan Lainnya

Kepala OJK Sulteng, Bonny Hardiputra, menegaskan bahwa seluruh indikator perbankan mengalami pertumbuhan positif secara year-on-year (yoy).

“Pada posisi 30 November 2024, total aset perbankan mencapai Rp76,44 triliun atau tumbuh 19,64 persen (yoy). Penyaluran kredit meningkat 21,02 persen menjadi Rp58,44 triliun, sementara penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp36,34 triliun atau tumbuh 7,39 persen,” ujarnya saat konferensi pers di Tanaris Cafe, Jumat (31/1/2025).

Ia menambahkan, kinerja intermediasi perbankan tetap terjaga dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) mencapai 160,84 persen.

Sementara itu, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) tetap terkendali di angka 1,49 persen.

Sektor perbankan syariah juga mencatatkan pertumbuhan positif. Nilai asetnya mencapai Rp3,46 triliun atau naik 15,72 persen (yoy), sementara pembiayaan syariah tumbuh 15,41 persen menjadi Rp3,07 triliun. Penghimpunan DPK di sektor ini juga melonjak 28,82 persen menjadi Rp2,19 triliun.

Komitmen perbankan dalam mendorong Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) turut terlihat dari peningkatan penyaluran kredit.

“Per 30 November 2024, kredit yang disalurkan kepada UMKM mencapai Rp17,77 triliun, tumbuh 16,69 persen (yoy), dengan NPL tetap terjaga di angka 2,58 persen, masih di bawah ambang batas 5 persen,” jelas Bonny.

Sektor IKNB juga menunjukkan kinerja positif. Penyaluran pembiayaan oleh perusahaan pembiayaan mencapai Rp6,92 triliun, meningkat 14,52 persen (yoy), dengan Non-Performing Financing (NPF) tetap terkendali di angka 1,88 persen.

Di sektor dana pensiun, total aset tumbuh 6,20 persen menjadi Rp104,32 miliar, sedangkan total investasi meningkat 6,44 persen menjadi Rp101,91 miliar.

Sementara itu, pembiayaan peer-to-peer lending mencatat outstanding pinjaman sebesar Rp487,39 miliar, naik signifikan 67,41 persen (yoy), dengan jumlah rekening penerima aktif mencapai 152.248 rekening. Tingkat wanprestasi (TWP90) tercatat di angka 1,57 persen.

Bonny juga melaporkan bahwa pasar modal di Sulawesi Tengah mengalami pertumbuhan yang pesat.

“Hingga 30 November 2024, jumlah rekening investasi di Sulawesi Tengah mencapai 147.630 rekening, meningkat 52,45 persen (yoy). Sebagian besar investor masih didominasi oleh rekening reksadana, yang mencakup 77,39 persen dari total rekening investasi di daerah ini,” ujarnya.

OJK Sulteng optimistis bahwa industri jasa keuangan akan terus tumbuh seiring dengan peningkatan literasi keuangan dan pengawasan yang lebih baik terhadap sektor-sektor keuangan.

Dengan capaian tersebut, OJK berkomitmen untuk terus mendorong inklusi keuangan di Sulawesi Tengah, terutama dalam mendukung UMKM dan memberikan perlindungan yang lebih baik kepada konsumen.

Dengan kinerja yang terus meningkat, diharapkan sektor jasa keuangan akan memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap perekonomian daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Sulawesi Tengah. (*)

 

 

 

 

 

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *