JOURNALRAKYAT.COM, PALU – Ada delapan nama yang malam itu tidak sedang diburu untuk menjadi berita.
Nama-nama itu justru disebut dalam doa.
Di Kota Palu, Senin (14/9) malam, puluhan jurnalis berkumpul. Mereka menyalakan lilin, berdiri dalam diam, lalu memanjatkan doa untuk delapan orang yang hingga kini belum diketahui keberadaannya.
Lima di antaranya adalah jurnalis. Tiga lainnya merupakan anak buah kapal (ABK).
Mereka hilang kontak saat menjalankan tugas peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Selat Sunda, Banten, pada Senin (7/9).
Hari berganti hari.
Pencarian memasuki hari ketujuh, tetapi kabar tentang mereka belum juga datang.
Di tengah ketidakpastian itu, para jurnalis di Palu memilih melakukan sesuatu yang mungkin terlihat sederhana: berkumpul, berdoa, menyalakan lilin, dan menuliskan harapan di atas kain putih.
Namun malam itu, tidak ada yang sederhana.
Mereka tahu, di balik delapan orang yang hilang, ada keluarga yang menunggu. Ada rekan kerja yang berharap telepon berdering membawa kabar baik. Ada pula kawan-kawan sesama jurnalis yang memahami risiko pekerjaan di lapangan.
Menjadi jurnalis berarti sering kali harus mendatangi tempat yang justru dihindari banyak orang.
Ketika bencana terjadi, mereka datang.
Ketika situasi berbahaya, mereka tetap bekerja.
Bukan karena tidak takut. Tetapi karena ada informasi yang harus disampaikan kepada publik.
Kini, mereka yang biasanya berada di balik kamera dan berita justru menjadi bagian dari sebuah pencarian besar.
Ketua Pewarta Foto Indonesia (PFI) Palu, Muhammad Rifki Hasan, mengatakan hingga satu pekan berlalu belum ada informasi terbaru mengenai keberadaan para jurnalis dan kru kapal tersebut.
“Sejauh ini untuk satu minggu berlalu, update terbaru dari teman-teman PFI Pusat belum ada informasi terkini soal hilangnya kawan kita yang melakukan peliputan di GAK,” katanya.
PFI Pusat, kata Rifki, terus mendorong agar proses pencarian tetap dilanjutkan. Harapan itu pula yang dibawa para jurnalis Palu dalam doa bersama malam tersebut.
Mereka tidak hanya mendoakan lima pewarta yang hilang, tetapi juga tiga ABK yang berada dalam kapal yang sama.
Doa juga dipanjatkan untuk seluruh tim Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) serta unsur SAR yang masih bekerja di tengah kondisi laut dan cuaca yang dinamis.
Termasuk untuk jurnalis LKBN ANTARA, Bagus Khoirunnas.
Bukan Sekadar Nama di Berita
Bagi para jurnalis di Palu, delapan orang itu bukan sekadar nama yang muncul dalam berita tentang orang hilang.
Mereka adalah kawan seprofesi. Orang-orang yang memahami bagaimana rasanya mengejar informasi, berpacu dengan waktu, dan berada di lapangan ketika sebuah peristiwa terjadi.
Karena itu, ketika kabar tentang mereka belum juga ditemukan, rasa kehilangan dan cemas terasa lebih dekat.
Kepala LKBN ANTARA Biro Sulawesi Tengah, Muhammad Zulfikar, mengatakan ANTARA sejak awal terus melakukan koordinasi dengan Basarnas, Polda Banten, dan keluarga para jurnalis yang belum ditemukan.
“Dari awal ANTARA sebagai kantor berita memaksimalkan koordinasi dengan Basarnas, Polda Banten, termasuk keluarga mereka yang hingga kini belum ditemukan,” katanya.
Upaya itu tidak berhenti pada koordinasi.
ANTARA juga ikut turun dalam proses pencarian bersama Basarnas. Bahkan, Direktur Utama Pemberitaan ANTARA turut terlibat langsung dalam upaya mencari keberadaan mereka.
Hingga kini, lima jurnalis bersama tiga ABK masih belum ditemukan.
Harapan yang Belum Padam
Malam di Palu terus berjalan.
Lilin-lilin yang dinyalakan para jurnalis perlahan mengecil. Tetapi harapan mereka tidak ikut padam.
Pesan-pesan yang ditulis di atas kain putih menjadi saksi bahwa dari tempat yang jauh dari Selat Sunda, ada kawan-kawan yang terus mengingat dan menunggu.
PFI Palu pun menyampaikan apresiasi kepada Basarnas yang memperpanjang operasi pencarian selama tiga hari ke depan.
Bagi mereka, tambahan waktu itu berarti tambahan kesempatan.
Kesempatan untuk menemukan delapan orang yang hingga kini masih dicari.
Kesempatan untuk membawa pulang kabar kepada keluarga yang menunggu.
Dan kesempatan untuk menjawab satu pertanyaan yang sejak sepekan terakhir terus menggantung:
Di mana kawan-kawan kami?
Para jurnalis Palu tidak punya kemampuan untuk mengendalikan laut, cuaca, ataupun arah pencarian.
Mereka hanya bisa mengirim doa.
Maka malam itu, doa menjadi cara mereka untuk tetap dekat dengan kawan-kawan yang berada jauh di Selat Sunda.
Semoga pencarian menemukan titik terang.
Semoga lima pewarta dan tiga ABK itu segera ditemukan.
Dan semoga suatu hari nanti, delapan nama yang malam itu ditulis dalam doa, kembali disebut dengan satu kalimat yang paling mereka tunggu:
“Mereka sudah ditemukan. Mereka pulang.” (***)






