JOURNALRAKYAT.COM, SIGI – Setelah melalui perjalanan panjang, Taman Al-Asmaul Husna di Desa Binangga, Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi, akhirnya diresmikan oleh Bupati Sigi, Mohamad Irwan, pada Kamis (30/1/2024).
Peresmian taman ini bukan hanya sekadar seremoni, tetapi juga menjadi momentum refleksi atas satu dekade kepemimpinan Irwan di Kabupaten Sigi.
Bagi Irwan, taman ini memiliki sejarah panjang yang erat kaitannya dengan dinamika sosial masyarakat setempat.
Ia mengisahkan bagaimana tempat yang kini menjadi ruang terbuka hijau yang asri dan religius ini dulunya kerap menjadi lokasi konflik kecil di desa tersebut.
“Saya masih ingat betul, taman ini awalnya hanya sebuah lahan terbuka atau Lapangan yang sering dipersengketakan. Bahkan, pada 2016, saat saya baru enam bulan menjabat sebagai bupati, tempat ini menjadi saksi sebuah insiden yang membuat saya berpikir bahwa kita perlu menghadirkan ruang yang lebih bermakna di sini,” ujar Irwan dalam sambutannya.
Bupati Irwan mengenang momen ketika dirinya mendapat panggilan telepon dari Kapolres Sigi saat itu, AKBP Wawan Sumantri, sekitar pukul 01.00 dini hari. Laporan itu mengabarkan adanya konflik kecil di Desa Binangga.
Tanpa ragu, Irwan langsung berangkat ke lokasi dengan mengenakan pakaian santai.S Saat tiba, Kapolres memperingatkannya untuk tidak mendekat karena ada api yang menyala di tengah-tengah kerumunan warga.
“Saya tanya, kenapa saya tidak boleh mendekat? Kapolres menjawab, ‘Lihat itu, ada api menyala.’ Saya bilang, ‘Aman, Pak, kan ada Bapak Kapolres,’” tutur Irwan mengenang kejadian itu.
Setelah situasi sedikit terkendali, pertemuan dengan para tokoh masyarakat pun digelar keesokan harinya. Diskusi berlangsung intens selama hampir satu minggu, hingga akhirnya muncul gagasan untuk mengubah lahan ini menjadi tempat yang lebih bermanfaat bagi masyarakat.
“Saya berpikir, kita tidak bisa membiarkan tempat ini terus menjadi sumber konflik. Kita butuh ruang yang dapat menyatukan masyarakat, bukan memecah-belah mereka,” jelasnya.
Irwan mengungkapkan bahwa rencana pembangunan taman ini sebenarnya sudah lama ada. Namun, berbagai hambatan menghadang, termasuk gempa besar yang melanda Sigi pada 2018 dan pandemi COVID-19 yang melanda dunia.
“Saat itu, anggaran terbatas dan fokus pemerintah juga harus dialihkan untuk penanganan bencana. Namun, saya tetap bertekad bahwa suatu saat, taman ini harus terwujud,” katanya.
Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya pembangunan taman ini kembali dilanjutkan. Namun, ada satu hal yang masih menjadi perdebatan yakni nama taman ini.
“Saya ingin nama yang bukan hanya indah, tetapi juga membawa ketenangan bagi siapa saja yang datang ke sini,” kata Irwan.
Dari berbagai diskusi, akhirnya dipilihlah nama Taman Al-Asmaul Husna, terinspirasi dari 99 nama Allah dalam Islam yang menggambarkan sifat-sifat kebaikan dan kasih sayang-Nya.
Kini, Taman Al-Asmaul Husna telah berdiri dengan megah. Di dalamnya terdapat monumen bertuliskan 99 nama Allah, yang diharapkan bisa menjadi pengingat bagi masyarakat untuk selalu menjaga kesejukan hati dan keharmonisan sosial.
Namun, bagi Bupati Irwan, taman ini lebih dari sekadar tempat rekreasi atau simbol religius.
Ia ingin taman ini menjadi ruang yang tetap terjaga nilai-nilainya. Oleh karena itu, ia menegaskan beberapa aturan yang harus dipatuhi dalam pemanfaatan taman ini.
“Saya tidak melarang adanya kegiatan olahraga di sini, seperti senam atau lainnya. Tapi saya berharap, jika ada senam atau olahraga lainnya, peserta mengenakan pakaian yang sopan dan sesuai dengan nilai-nilai agama yang kita junjung,” tegasnya.
Selain itu, Irwan juga menekankan bahwa kegiatan seni dan budaya tetap diperbolehkan, tetapi dengan batasan tertentu.
“Saya tidak melarang musik, tapi saya lebih mendukung kegiatan seni Islami, seperti rebana atau nasyid. Saya hanya ingin taman ini tetap menjadi tempat yang nyaman dan menenangkan bagi semua orang,” lanjutnya.
Irwan mengakui bahwa sebelum taman ini benar-benar selesai, banyak pihak yang meragukan proyek ini. Bahkan, beberapa bulan lalu, di media sosial sempat beredar narasi bahwa taman ini adalah proyek mangkrak yang mubazir.
“Orang boleh saja punya cara pandang yang berbeda. Tapi hari ini, kita bisa melihat sendiri bagaimana taman ini akhirnya berdiri dan bisa dinikmati oleh masyarakat,” ujarnya.
Lebih dari itu, Irwan berharap Taman Al-Asmaul Husna bisa menjadi bagian dari pengembangan ekonomi lokal, sekaligus magnet baru bagi wisata religi di Kabupaten Sigi.
“Saya ingin tempat ini tidak hanya menjadi ruang rekreasi, tetapi juga ruang ekonomi bagi masyarakat sekitar. Semoga ada perputaran ekonomi dari pengunjung yang datang, baik melalui UMKM maupun kegiatan lainnya,” harapnya.
Bupati Irwan menutup sambutannya dengan mengajak masyarakat untuk menjaga taman ini dengan baik.
Ia menekankan bahwa pembangunan ruang publik seperti ini harus terus didorong di berbagai wilayah di Sigi.
“Di Kecamatan Marawola, kita juga punya Taman Taiganja dan beberapa ruang publik lainnya. Harapan saya, taman-taman ini bisa terus berkembang dan menjadi tempat yang menyatukan masyarakat,” katanya.
Irwan pun berharap agar masyarakat memiliki rasa memiliki terhadap taman ini dan menjaga kebersihannya, sehingga keberadaannya tetap terawat dalam jangka panjang.
“Tempat ini dulunya kumuh dan penuh konflik. Sekarang, kita sudah ubah menjadi ruang yang membawa kesejukan. Mari kita jaga bersama,” tutupnya.
Dengan peresmian Taman Al-Asmaul Husna, Bupati Irwan bukan hanya meninggalkan warisan berupa pembangunan fisik, tetapi juga warisan nilai tentang bagaimana sebuah ruang dapat mengubah dinamika sosial masyarakat dan membawa ketenangan bagi siapa saja yang datang ke sana. (*)






