Tiga Tahun Berkarya, Hannah Asa Indonesia Edukasi 15.700 Warga soal Literasi Keuangan

Tiga Tahun Berkarya, Hannah Asa Indonesia Edukasi 15.700 Warga soal Literasi Keuangan. (Foto/Journalrakyat)

JOURNALRAKYAT.COM, PALU – Hannah Asa Indonesia menandai perjalanan tiga tahunnya dengan perayaan Milad ke-3 yang digelar di Tanaris, Jalan Juanda, Kelurahan Lolu Utara, Kecamatan Palu Timur, Kota Palu, Senin (22/12/2025).

Perayaan ini bukan sekadar seremoni, melainkan momentum untuk menegaskan komitmen Hana Asa Indonesia dalam memperluas literasi keuangan di Sulawesi Tengah dan wilayah lainnya.

Kegiatan ini dihadiri perwakilan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Tengah yang diwakili Analis OJK Sulteng Adam Novriansyah, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Sulawesi Tengah Sisliandy Ponulele, mahasiswa, serta sejumlah awak media.

Founder Hannah Asa Indonesia, Mardiyah, mengatakan organisasi yang dipimpinnya lahir dari niat sederhana untuk membagikan ilmu dan pengalaman agar bermanfaat bagi masyarakat luas.

“Hannah lahir bukan dari perencanaan yang sempurna, tetapi dari niat sederhana bagaimana ilmu dan pengalaman yang kami miliki bisa memberi manfaat bagi orang lain,” ujar Mardiyah dalam sambutannya.

 

Ia menjelaskan, tahun pertama Hannah Asa Indonesia diisi dengan upaya bertahan, tahun kedua fokus membenah dan membangun kepercayaan, hingga di tahun ketiga berani memperluas dampak dan mimpi ke skala yang lebih besar.

Menurut Mardiyah, keberhasilan tersebut tidak lepas dari peran tim, mitra, mentor, serta para penerima manfaat, mulai dari pelaku UMKM, mahasiswa, hingga masyarakat umum.

Sepanjang tahun 2025, Hannah Asa Indonesia mencatat sejumlah capaian signifikan. Salah satunya menjadi satu dari tujuh penyelenggara sertifikasi wealth planner di Indonesia. Selain itu, lebih dari 15.700 penerima manfaat telah mendapatkan edukasi keuangan melalui berbagai program Hannah Asa Indonesia.

“Harapan kami, Hannah tidak hanya menjadi ruang untuk bertumbuh, tetapi juga ruang untuk berkarya. Walaupun basecamp kami di Sulawesi Tengah, dampaknya bisa dirasakan lebih luas,” katanya kepada awak media.

Mardiyah juga mengungkapkan tantangan utama yang dihadapi selama tiga tahun terakhir, yakni kondisi geografis Sulawesi Tengah yang memengaruhi pemerataan edukasi keuangan. Dari temuan lapangan, Hannah Asa Indonesia melihat adanya kesenjangan antara literasi keuangan dan inklusi keuangan.

“Banyak masyarakat sudah menggunakan produk perbankan, tetapi belum sepenuhnya memahami dan memanfaatkan layanan tersebut secara optimal. Temuan ini sejalan dengan hasil survei literasi keuangan,” jelasnya.

Melalui berbagai program edukasi, Hannah Asa Indonesia berharap dapat meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap pengelolaan keuangan, yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan kesejahteraan dan perekonomian daerah.

Rangkaian perayaan Milad ke-3 Hannah Asa Indonesia ditutup dengan prosesi pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur atas perjalanan dan capaian yang telah diraih, sekaligus harapan agar Hannah Asa Indonesia terus memberikan kontribusi positif yang lebih luas di masa mendatang. (*)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *