JOURNALRAKYAT.COM, SIGI – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sigi menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Kepenulisan Berbasis Konten Budaya Lokal dengan mengusung tema “Merangkai Jejak Budaya Sigi Melalui Karya Tulis”.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 20–21 Juli 2026, ini menjadi langkah strategis pemerintah daerah dalam memperkuat budaya literasi sekaligus mendokumentasikan kekayaan budaya lokal melalui karya tulis.
Bimtek yang digelar di Auditorium Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sulawesi Tengah, Desa Maku, Kecamatan Dolo, diikuti oleh pustakawan, pengelola perpustakaan, guru, pegiat literasi, pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum.
Selama pelatihan, peserta mendapatkan materi mengenai pengantar budaya dan kearifan lokal, tradisi lisan, teknik penulisan esai, artikel ilmiah populer, peningkatan kualitas naskah, gaya selingkung, hingga proses penerbitan karya tulis. Materi tersebut disampaikan oleh budayawan, praktisi perpustakaan, penulis profesional, dan penerbit.
Mewakili Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sigi, Kepala Bidang Perpustakaan David Bagia mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan budaya literasi masyarakat sekaligus memperkuat pelestarian budaya daerah melalui karya tulis.
Menurutnya, pelaksanaan kegiatan mengacu pada Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2014, Peraturan Perpustakaan Nasional Nomor 7 Tahun 2025 tentang Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat, serta Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sigi Tahun Anggaran 2026.
“Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kompetensi penulis pemula, mendorong lahirnya penulis kreatif yang mampu mengangkat kearifan lokal Kabupaten Sigi, menghasilkan bahan bacaan bermutu berbasis budaya lokal, mendukung pelestarian budaya melalui karya tulis, sekaligus membangun ekosistem kepenulisan di daerah,” ujar David.
Lebih lanjut, kata David, bimbingan teknis ini tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas peserta, tetapi juga menargetkan lahirnya sebuah karya nyata berupa buku yang memuat tulisan-tulisan peserta bertema budaya dan kearifan lokal Kabupaten Sigi. Buku tersebut diharapkan menjadi salah satu koleksi literasi daerah sekaligus media dokumentasi dan pelestarian kekayaan budaya lokal yang dapat dimanfaatkan masyarakat maupun generasi mendatang.
“Jadi output dari kegiatan ini bukan hanya peserta memperoleh ilmu, tetapi juga menghasilkan satu buku yang berisi karya-karya terbaik peserta. Kami berharap buku ini menjadi jejak literasi yang mendokumentasikan budaya lokal Sigi dan dapat menjadi referensi bagi masyarakat,” tutup David.
Ia berharap melalui pelatihan tersebut lahir karya-karya tulis berkualitas yang layak diterbitkan dan dapat memperkaya koleksi bahan bacaan berbasis konten lokal sebagai media pelestarian budaya sekaligus sumber literasi masyarakat.
Sementara itu, Bunda Literasi Kabupaten Sigi, Siti Halwiah, memberikan apresiasi kepada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sigi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, bimtek kepenulisan menjadi langkah penting untuk memperkuat budaya literasi sekaligus menjaga identitas budaya daerah.
“Literasi bukan hanya tentang kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan mengolah pengetahuan, mendokumentasikan pengalaman, dan mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi penerus. Di era digital seperti sekarang, tulisan menjadi salah satu cara paling efektif menjaga identitas budaya agar tetap hidup dan dikenal masyarakat luas,” katanya.
Siti Halwiah menilai Kabupaten Sigi memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam, mulai dari tradisi, adat istiadat, bahasa daerah, cerita rakyat, kesenian, kuliner, hingga berbagai bentuk kearifan lokal yang perlu didokumentasikan agar tidak hilang ditelan zaman.
Ia berharap para peserta tidak hanya menguasai teknik kepenulisan, tetapi juga memiliki kesadaran untuk menjadi penulis yang mampu mengangkat identitas daerah melalui karya-karya yang berkualitas.
Menurutnya, hasil dari bimbingan teknis ini diharapkan tidak berhenti sebagai naskah latihan, melainkan berkembang menjadi buku, dokumentasi budaya, biografi tokoh daerah, cerita rakyat, hingga bahan bacaan anak yang dapat memperkaya koleksi perpustakaan dan menjadi sumber belajar masyarakat.
“Kemajuan sebuah daerah tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur, tetapi juga oleh kemampuan masyarakatnya menjaga identitas, pengetahuan, dan budayanya. Melalui tulisan, kita merawat ingatan, memperkuat jati diri, dan meninggalkan warisan intelektual bagi generasi mendatang,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kabupaten Sigi berharap semangat literasi terus tumbuh di tengah masyarakat dan melahirkan lebih banyak penulis kreatif yang mampu mendokumentasikan sekaligus mempromosikan kekayaan budaya lokal sebagai warisan berharga bagi generasi masa depan. (***)






