BRMP Sulteng Pimpin Percepatan Pertanian Modern, Sulteng Bidik Produktivitas Padi 6–10 Ton per Hektare

JOURNALRAKYAT.COM, SIGI – Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sulawesi Tengah memimpin percepatan penerapan budidaya padi berbasis teknologi melalui Rapat Koordinasi Perluasan Penerapan Budidaya Padi Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS) dan Program Strategis Kementerian Pertanian Provinsi Sulawesi Tengah yang digelar di Auditorium BRMP Sulawesi Tengah, Desa Maku, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, Selasa (14/7/2026).

Kegiatan tersebut menjadi langkah awal menyatukan komitmen pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, pemerintah kabupaten/kota, penyuluh pertanian, brigade pangan, hingga petani dalam menyukseskan program modernisasi pertanian dan peningkatan produksi padi di Sulawesi Tengah.

Bacaan Lainnya

Kepala BRMP Sulawesi Tengah, Dr. Ruslan Boy, mengatakan PM-AAS merupakan salah satu program strategis Kementerian Pertanian untuk mendorong peningkatan produktivitas padi melalui penerapan teknologi modern secara menyeluruh.

Menurutnya, program tersebut selaras dengan kebijakan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah melalui program Berani Panen Raya yang telah dicanangkan Gubernur Anwar Hafid.

“Program ini sinkron dengan program pemerintah provinsi. Kalau target provinsi mendorong produktivitas di atas 5 hingga 7 ton per hektare, maka melalui PM-AAS pemerintah pusat menargetkan produktivitas hingga 10 ton gabah kering panen per hektare pada lahan yang memenuhi persyaratan teknis,” ujar Ruslan.

Ia menjelaskan, secara statistik produktivitas padi Sulawesi Tengah saat ini masih berada di kisaran di atas 4 ton per hektare. Karena itu, dibutuhkan transformasi pertanian melalui penerapan teknologi, mekanisasi, penggunaan benih unggul, pemupukan presisi, digitalisasi pertanian, hingga pengelolaan air yang lebih efisien.

Ruslan juga memaparkan perjalanan kelembagaan BRMP Sulawesi Tengah. Berawal dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) yang berkantor di Lolu, Biromaru, kemudian berpindah ke Desa Maku setelah kantor lama rusak akibat gempa 2018. Selanjutnya pada 2022 terjadi penataan kelembagaan melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), hingga pada 2024 resmi menjadi Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP).

Saat ini BRMP Sulawesi Tengah didukung sekitar 64 sumber daya manusia serta puluhan penyuluh pertanian yang tersebar di berbagai daerah untuk mendampingi petani dalam menjalankan program-program strategis Kementerian Pertanian.

“Keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga kualitas pendampingan penyuluh dan kolaborasi seluruh pihak,” katanya.

Ruslan mengungkapkan, Sulawesi Tengah memperoleh target penerapan PM-AAS seluas 24.414 hektare pada Musim Tanam (MT) III periode Juli–September 2026 dari total potensi tanam sekitar 36.114 hektare. Target tersebut merupakan bagian dari program nasional perluasan PM-AAS menuju 1 juta hektare.

Menurutnya, keberhasilan target tersebut memerlukan penyediaan sarana produksi tepat waktu, pemanfaatan alat mesin pertanian secara optimal, pendampingan intensif, hingga monitoring dan evaluasi secara berkelanjutan.

Sementara itu, Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid mengapresiasi Kementerian Pertanian dan BRMP Sulawesi Tengah yang dinilai terus mendorong transformasi sektor pertanian menuju sistem yang lebih modern, maju, mandiri, dan berkelanjutan.

Anwar mengatakan Sulawesi Tengah mendapat mandat sebagai salah satu provinsi penyangga ketahanan pangan nasional dalam program Asta Cita Presiden Republik Indonesia. Karena itu, sektor pertanian menjadi prioritas pembangunan daerah melalui program Berani Panen Raya yang telah dimasukkan dalam RPJMD Provinsi Sulawesi Tengah.

“Sekarang rata-rata produktivitas padi kita masih sekitar 4 ton per hektare. Target kita minimal menjadi 6 ton per hektare. Kalau rata-rata itu tercapai, Sulawesi Tengah sudah memberikan kontribusi besar terhadap ketahanan pangan nasional,” ujarnya.

Ia menambahkan, peningkatan produksi dilakukan melalui optimalisasi lahan sawah yang sudah ada sekaligus pengembangan sawah baru untuk menciptakan petani-petani baru.

Anwar menegaskan keberhasilan target tersebut hanya dapat dicapai melalui sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, penyuluh pertanian, dan para petani.

“Provinsi hadir untuk membantu kabupaten dan kota. Yang memiliki sawah dan petani adalah kabupaten, sehingga kita harus bekerja sama menyusun program yang benar-benar dibutuhkan di lapangan agar target peningkatan produktivitas dapat tercapai,” tegasnya.

Melalui rapat koordinasi ini, BRMP Sulawesi Tengah diharapkan menjadi motor penggerak penerapan pertanian modern di daerah sekaligus memperkuat kolaborasi seluruh pemangku kepentingan dalam mendukung target nasional perluasan PM-AAS menuju 1 juta hektare serta mewujudkan pertanian modern dan petani yang semakin sejahtera. (***)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *