JOURNALRAKYAT.COM, SIGI – Pemerintah Kabupaten Sigi mendorong aparatur sipil negara (ASN) tidak hanya menjadi pelaksana pemerintahan, tetapi juga ikut mengambil peran dalam menjaga dan mengenalkan identitas budaya daerah.
Hal itu ditegaskan Bupati Sigi Mohamad Rizal Intjenae saat memberikan arahan kepada jajaran ASN di sela-sela Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila di lingkungan Pemkab Sigi, di Bora, Kamis (1/10/2026).
Rizal mengingatkan kembali ketentuan penggunaan batik bermotif Taiganja dan penutup kepala khas daerah, Siga, bagi ASN setiap hari Kamis.
Menurutnya, penggunaan pakaian khas tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan aturan kedinasan atau keseragaman aparatur. Lebih dari itu, pakaian tersebut menjadi cara sederhana untuk memperlihatkan identitas budaya Sigi dalam aktivitas sehari-hari.
“Ini hari Kamis. Saya lihat masih ada yang tidak pakai Siga, tolong ya diupayakan,” kata Rizal di hadapan peserta upacara.
Ia menegaskan batik yang digunakan ASN pada hari Kamis harus bermotif Taiganja yang merupakan salah satu motif khas daerah Sigi.
“Harus pakai baju batik motif Taiganja, karena itu punya Sigi,” tegasnya.
Rizal mengatakan aturan penggunaan batik Taiganja dan Siga telah ditetapkan melalui surat edaran Pemerintah Kabupaten Sigi. Karena itu, ia meminta seluruh perangkat daerah memastikan ketentuan tersebut diterapkan oleh ASN di masing-masing lingkungan kerja.
“Saya tidak akan lihat lagi hari Kamis depan ada yang tidak pakai Siga untuk laki-laki dan untuk perempuan juga demikian. Saya pikir ini jadi perhatian,” ujarnya.
Bagi Rizal, pengenalan budaya tidak harus selalu dilakukan melalui kegiatan besar. Lingkungan pemerintahan juga dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan simbol dan identitas daerah kepada masyarakat.
Dengan ASN mengenakan pakaian khas daerah secara konsisten, kata dia, masyarakat maupun tamu yang datang ke lingkungan pemerintahan dapat melihat secara langsung identitas budaya yang dimiliki Kabupaten Sigi.
Penggunaan Taiganja dan Siga juga dinilai menjadi bagian dari upaya menjaga warisan budaya di tengah perkembangan zaman. Simbol-simbol tersebut diharapkan tidak hanya dikenal sebagai atribut pakaian, tetapi dipahami sebagai bagian dari jati diri masyarakat Sigi.
Karena itu, Rizal meminta kepatuhan terhadap aturan tersebut tidak sekadar dimaknai sebagai kewajiban bagi ASN, tetapi juga sebagai bentuk kebanggaan terhadap daerah.
Ia berharap jajaran ASN dapat menjadi contoh dalam menjaga kearifan lokal sekaligus ikut mengenalkan kekayaan budaya Sigi kepada masyarakat luas.
Dengan demikian, penggunaan batik Taiganja dan Siga setiap Kamis di lingkungan Pemkab Sigi diharapkan menjadi kebiasaan yang tidak hanya mencerminkan kedisiplinan aparatur, tetapi juga ikut menjaga keberadaan identitas budaya daerah dari generasi ke generasi. (Ngel)






