Dari Tradisi Lebaran ke Festival Budaya, Perjalanan Tapa Gogoso di Sigi

Bupati Sigi Mohamad Rizal Intjenae menyampaikan sambutan di tengah kemeriahan Festival Tapa Gogoso, dengan latar aktivitas warga membakar gogoso sebagai simbol pelestarian budaya lokal. (Foto ilustrasi AI)

JOURNALRAKYAT.COM, SIGI – Di banyak rumah di wilayah Dolo, aroma Tapa Gogoso selalu punya tempat istimewa, terutama saat Lebaran tiba. Dari dapur sederhana, makanan berbahan dasar beras ketan ini diolah dengan penuh kesabaran dibakar perlahan, dibungkus rapi, lalu disajikan untuk keluarga yang berkumpul.

Namun kini, Tapa Gogoso tak lagi hanya hidup di ruang-ruang dapur. Ia mulai melangkah keluar, hadir di ruang publik, dan menjadi bagian dari perayaan yang lebih besar: Festival Tapa Gogoso di Desa Kota Rindau, Kecamatan Dolo.

Sabtu malam (4/4/2026), suasana desa berubah menjadi lebih hidup. Lampu-lampu menerangi lokasi kegiatan, warga berdatangan, anak-anak berlarian, sementara para orang tua sibuk menyapa kerabat yang lama tak bertemu. Di antara keramaian itu, Tapa Gogoso menjadi pusat perhatian.

Di setiap sudut, sajian khas ini tersusun di meja-meja sederhana. Ada yang masih hangat, ada pula yang siap dibawa pulang. Bagi masyarakat, ini bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari cerita panjang tentang kebersamaan.

Festival ini menjadi momen penting bukan hanya untuk merayakan tradisi, tetapi juga untuk memperkenalkannya kepada lebih banyak orang. Dari sesuatu yang dulunya hanya dinikmati saat hari raya, kini Tapa Gogoso mulai dikenalkan sebagai identitas budaya yang layak dibanggakan.

Kemeriahan semakin terasa dengan hadirnya hiburan dari Acil The Box dan penampilan Ote Abadi, vokalis band legendaris The Mercy’s. Musik dan tawa berpadu, menciptakan suasana yang hangat dan penuh semangat.

Di tengah suasana itu, pemerintah daerah hadir membawa harapan baru. Wakil Bupati Sigi Samuel Yansen Pongi bersama sejumlah pejabat daerah tampak menyatu dengan masyarakat, menikmati jalannya festival.

Bupati Sigi, Mohamad Rizal Intjenae, dalam sambutannya menegaskan bahwa Tapa Gogoso bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang identitas.

“Ini bukan hanya makanan, tetapi budaya kita. Kalau kita kelola dengan baik, ini bisa menjadi kekuatan ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Pernyataan itu mencerminkan arah baru pembangunan daerah bahwa budaya lokal tidak hanya dijaga, tetapi juga diberi ruang untuk berkembang dan memberi manfaat nyata.

Rizal bahkan membayangkan festival ini tumbuh lebih besar ke depan. Tidak hanya digelar di satu desa, tetapi melibatkan seluruh desa di Kecamatan Dolo, sehingga dampaknya bisa dirasakan lebih luas.

“Ke depan, ini menjadi milik bersama. Semua desa terlibat, semua masyarakat bisa merasakan manfaatnya,” katanya.

Dukungan juga datang dari Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, Musliman. Ia berharap festival ini dapat ditetapkan secara resmi sebagai agenda wisata kuliner daerah, agar memiliki keberlanjutan yang jelas.

Bagi masyarakat, perubahan ini membawa harapan. Dari aktivitas memasak yang selama ini dilakukan untuk keluarga, kini muncul peluang untuk meningkatkan pendapatan. Tapa Gogoso yang dulu hanya hadir di momen tertentu, kini berpotensi menjadi sumber ekonomi baru.

Di balik kesederhanaannya, tersimpan potensi besar. Beras ketan yang diolah dengan cara tradisional bukan hanya menghasilkan rasa khas, tetapi juga membawa cerita tentang identitas, kebersamaan, dan ketekunan masyarakat.

Malam itu, Festival Tapa Gogoso bukan hanya tentang merayakan makanan tradisional. Ia menjadi simbol perjalanan dari tradisi Lebaran yang hangat di dalam rumah, menuju panggung budaya yang lebih luas.

Dan di Desa Kota Rindau, perjalanan itu baru saja dimulai.

Festival ini pun menjadi lebih dari sekadar acara tahunan. Ia adalah langkah kecil yang membawa harapan besar—bahwa dari tradisi yang dijaga, kesejahteraan bisa tumbuh.

Malam semakin larut, namun suasana tetap hangat. Tawa, musik, dan aroma ketan masih bertahan di udara. Di Desa Kota Rindau, Tapa Gogoso bukan hanya tentang rasa, tetapi tentang bagaimana sebuah tradisi terus hidup, dan kini mulai menemukan jalannya menuju masa depan. (***)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *