JOURNALRAKYAT.COM, SIGI – Tokoh masyarakat sekaligus mantan Bupati Sigi periode 2016–2024, Mohamad Irwan Lapatta, menghadiri kegiatan seni BOSARA (Bongi Mposarara) yang digelar DPC PAPPRI bersama sejumlah kelompok pemuda dari Desa Lolu dan Desa Mpanau, pada Sabtu (3/8/2025).
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Likuifaksi, Desa Lolu, Kecamatan Sigi Biromaru ini dirangkaikan dengan talkshow bertema “Pemuda Kreatif: Bergerak, Bertumbuh, dan Berdampak”, di mana Irwan tampil sebagai pembicara utama.
Dalam sambutannya, Irwan mengapresiasi inisiatif kegiatan tersebut yang digelar secara mandiri oleh para pemuda.
“Saya menyambut baik ide teman-teman yang mengadakan kegiatan ini secara mandiri. Ini sangat jarang terjadi. Hidup itu tidak harus bergantung pada siapa pun, termasuk pemerintah. Pemerintah itu jembatan, bukan tujuan. Jadi jangan selalu menunggu bantuan,” tegas Irwan.
Ia juga mengajak pemuda untuk bersatu dan terus membangun ruang-ruang seni serta kreativitas di daerah.
“Tanpa persatuan, kegiatan seperti ini tidak akan berjalan lancar. Kita harus membangun ruang seni, ruang kemandirian, dan jangan takut tidak punya uang atau fasilitas. Yang penting ada komitmen dan keberanian menghadapi tantangan,” lanjutnya.
Dalam paparannya, Irwan mengulas sejarah gerakan pemuda sejak 1908 hingga Sumpah Pemuda 1928 sebagai refleksi bahwa perubahan besar dimulai dari ruang-ruang kecil dan kesadaran bersama.
“Indonesia tidak lahir tiba-tiba jadi negara besar. Ada proses panjang dari ruang-ruang kecil. Dari Budi Utomo, Sumpah Pemuda, hingga Proklamasi 17 Agustus 1945 semua digerakkan oleh pemuda yang saat itu berusia 30 hingga 40 tahun ke bawah,” kata Irwan.
Ia juga menyinggung masa kepemimpinannya sebagai Bupati Sigi yang telah mendorong penguatan ekosistem seni melalui Dewan Kesenian dan DPC PAPPRI, termasuk pengadaan alat seni, pembangunan gedung sekretariat, dan studio rekaman.
“Saya punya mimpi agar DKS dan PAPPRI jadi kekuatan yang menghidupi dirinya sendiri. Kalau alat-alat lengkap, ruang rekaman ada, mereka bisa mandiri dan berdampak. Tinggal pemerintah sekarang melanjutkan dan mendukung,” harapnya.
Irwan juga mendorong penghapusan sekat-sekat wilayah dalam ruang seni. Menurutnya, semua pemuda Sigi harus merasa satu dalam semangat berkesenian dan kebersamaan.
“Saya ingin tak ada lagi sekat Biromaru, Dolo, Kulawi, dan lainnya. Kita semua orang Sigi. Ruang seni harus menjadi ruang persatuan,” ujar Irwan.
Ia menutup pesannya dengan menekankan pentingnya terus bergerak, bertumbuh, dan menjadi bermanfaat.
“Kita sudah bergerak. Tinggal bertumbuh dan memberi manfaat. Anak muda Sigi punya kreativitas luar biasa. Jangan takut, jangan merasa kecil. Terus berkarya,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua DPC PAPPRI Sigi, Yudhi Nugraha, menyebut kegiatan BOSARA bertujuan menjadi wadah pengembangan kreativitas generasi muda serta memperkuat kesadaran budaya dan solidaritas.
“BOSARA adalah singkatan dari Bongi Mposarara. Ini bukan hanya nama, tapi semangat. BOSARA kita maknai sebagai wadah menyajikan karya-karya manis untuk masyarakat, seperti bosara dalam tradisi Sulawesi yang menyajikan makanan bagi tamu,” jelas Yudhi.
Yudhi menambahkan, kegiatan ini juga sekaligus bentuk pemanfaatan fasilitas publik yang telah dibangun pemerintah, agar benar-benar menjadi ruang tumbuhnya kreativitas anak muda.
“Fasilitas sudah ada. Tinggal kita manfaatkan untuk menciptakan dan mengekspor karya-karya anak muda,” tutupnya. (Angel)






