JOURNALRAKYAT.COM – SIGI – Masyarakat Desa Sidera, Kecamatan Sigi Kota, Kabupaten Sigi, didorong untuk lebih mandiri menghadapi situasi darurat, termasuk ketika bencana mengganggu jaringan dan pasokan listrik.
Upaya itu dilakukan melalui Program Desa Siaga Bencana PLN 2026 yang digelar PT PLN (Persero) melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL/CSR) di Desa Sidera, Rabu (30/9/2026).
Mengusung tema “Kesiapsiagaan Berbasis Pemberdayaan Masyarakat”, program tersebut berlangsung selama tiga hari hingga 2 Oktober 2026. Kegiatan merupakan kolaborasi PLN Peduli bersama UN Women, Danantara Indonesia, serta Pemerintah Kabupaten Sigi melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Program ini tidak hanya berfokus pada pemberian bantuan, tetapi juga membekali masyarakat dengan pengetahuan dan keterampilan agar mampu mengambil langkah awal ketika terjadi kondisi darurat.
Wakil Manajer PLN UP3 Palu, I Made Agus Andi Mertha, mengatakan program tersebut dirancang untuk memperkuat kapasitas masyarakat, terutama dalam menghadapi risiko bencana yang berdampak pada keselamatan dan infrastruktur kelistrikan.
“Kami tidak ingin masyarakat hanya menunggu bantuan saat bencana terjadi. Melalui program ini, kami membentuk relawan siaga listrik desa, memberikan edukasi keselamatan kelistrikan saat bencana, sekaligus memperkuat infrastruktur yang tangguh terhadap risiko kebencanaan,” katanya.
Menurutnya, program dilaksanakan melalui tiga tahapan utama, yakni pelatihan, penyediaan perlengkapan, dan pendampingan.
Pada tahap pelatihan, masyarakat mendapatkan materi teknis mengenai penanganan kelistrikan dalam kondisi darurat. Peserta berasal dari sejumlah kelompok masyarakat, di antaranya karang taruna dan kelompok tani.
Selanjutnya, Desa Sidera mendapat dukungan peralatan kesiapsiagaan berupa alat pelindung diri (APD), genset darurat, dan fasilitas posko siaga. PLN bersama mitra juga akan melakukan pendampingan selama satu tahun untuk memastikan program berjalan berkelanjutan.
“Jadi bukan hanya memberikan bantuan, tetapi bagaimana masyarakat mampu mengelola dan memanfaatkan pengetahuan tersebut secara mandiri ketika menghadapi situasi darurat,” ujar I Made Agus.
Ia menambahkan, aspek mitigasi risiko dan keberlanjutan menjadi bagian penting dalam program tersebut. PLN juga mendorong integrasi data kebencanaan desa dengan sistem pendukung yang melibatkan pemerintah desa, BPBD, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), hingga pemerintah kecamatan.
Dengan pendekatan tersebut, Desa Sidera diharapkan dapat menjadi salah satu contoh desa yang memiliki kemampuan mengelola kebutuhan listrik darurat, terutama pada masa kritis setelah bencana.
“Harapannya, Desa Sidera dapat menjadi model desa tangguh yang mampu mengelola sistem kelistrikan darurat secara mandiri selama 72 jam pertama sebelum bantuan eksternal tiba,” jelasnya.
Kepala Desa Sidera, Muhamad Aris M. Pantowana, mengapresiasi penetapan wilayahnya sebagai lokasi Program Desa Siaga Bencana PLN 2026.
Menurutnya, program tersebut menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk meningkatkan kemampuan menghadapi berbagai potensi bencana yang dapat terjadi di wilayah mereka.
“Pemerintah Desa Sidera sangat mengapresiasi dan mendukung program ini. Kami berharap seluruh peserta dapat mengikuti materi yang disampaikan para narasumber dengan baik sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Ia berharap program tidak berhenti pada pelatihan, tetapi dapat membentuk budaya kesiapsiagaan yang terus diterapkan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, Bupati Sigi Mohamad Rizal Intjenae menyampaikan apresiasi kepada PLN dan seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program tersebut.
Menurut Rizal, kesiapsiagaan bencana merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan keterlibatan pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.
“PLN tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan gotong royong dan kolaborasi semua pihak untuk mewujudkan desa yang tangguh, berdaya, dan siap menghadapi berbagai tantangan kebencanaan,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk ikut menjaga keamanan jaringan dan infrastruktur kelistrikan sebagai bagian dari upaya mitigasi risiko.
“Mari kita jaga infrastruktur listrik yang ada. Hindari aktivitas pembakaran di sekitar jaringan listrik dan segera melaporkan jika terdapat potensi bahaya. Listrik yang aman akan menghadirkan kenyamanan bagi masyarakat,” ujarnya.
Pembukaan program turut dihadiri perwakilan UN Women, Kemenko PMK, BPBD Sigi, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB), Pemerintah Kecamatan Sigi Kota, Polres Sigi, Kodim 1306/Kota Palu, serta sejumlah organisasi dan unsur masyarakat.
Rangkaian kegiatan juga menghadirkan narasumber dari BPBD Sigi, UN Women, Kemenko PMK, Fakultas Teknik Universitas Tadulako, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh perempuan, dan warga Desa Sidera.
Program tersebut diharapkan dapat memperkuat kapasitas masyarakat sekaligus membangun sistem kesiapsiagaan di tingkat desa, khususnya dalam menghadapi kondisi darurat yang berpotensi mengganggu keselamatan warga dan layanan kelistrikan. (**)






