JOURNALRAKYAT.COM, SIGI – Ribuan Aparatur Sipil Negara (ASN) memenuhi halaman Kantor Bupati Sigi, Senin (17/2/2025), dalam sebuah momen yang terasa lebih berat dari biasanya.
Apel Akbar ASN kali ini dirangkaikan dengan Silaturahmi Akhir Masa Jabatan Bupati Sigi, Mohamad Irwan, yang telah memimpin daerah ini selama hampir satu dekade.
Sejak pagi, suasana di Kantor Bupati di Desa Bora, Kecamatan Sigi Kota, tampak berbeda.
Para Kepala OPD, Kepala Desa, dan seluruh ASN yang hadir seolah merasakan bahwa hari itu bukan sekadar apel rutin, melainkan hari perpisahan dengan seorang pemimpin yang telah bersama mereka melewati berbagai ujian dan tantangan, dari pembangunan hingga bencana besar yang mengguncang daerah ini.
Dalam sambutannya, Mohamad Irwan berbicara dengan nada penuh makna.
“Apel hari ini terasa berbeda. Ini menjadi apel 17 terakhir saya sebagai bupati. Tapi sesungguhnya, dalam kehidupan ini, tidak ada yang benar-benar terakhir, karena semua adalah proses yang terus berjalan. Kita semua ada dalam perjalanan yang memiliki batas, baik sebagai pejabat politik maupun sebagai ASN,” ucapnya, suaranya terdengar sedikit bergetar.
Ia mengenang perjalanannya sejak 2016, ketika pertama kali dipercaya memimpin Sigi. Begitu banyak rencana yang disusun, begitu banyak harapan yang dibangun. Namun takdir berkata lain, gempa bumi meluluhlantakkan sebagian besar wilayah ini. Pembangunan yang telah dirancang sejak awal harus disesuaikan dengan realitas baru.
“Desain perencanaan daerah yang kita susun sejak awal harus berubah karena kenyataan yang harus kita lewati. Tapi sekarang Kabupaten Sigi sudah bangkit dengan berbagai pencapaian yang sangat luar biasa,” katanya.
Ia pun tak lupa menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh pejabat dan ASN yang telah bekerja keras mendukung kebijakan dan program-program yang telah dijalankan.
Kepada Sekda dan seluruh pimpinan OPD, ia berpesan agar terus mengawal program yang sudah dirintis.
“Saya titipkan Kabupaten Sigi ini kepada bupati terpilih. Saya berharap program unggulan yang telah kita jalankan, terutama di bidang pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat, tetap menjadi prioritas. Jangan ada lagi anak-anak yang putus sekolah, jangan ada lagi warga yang sakit tetapi tak bisa berobat,” ujarnya dengan sorot mata yang tampak berat melepaskan tanggung jawab yang telah diembannya selama ini.
Di akhir sambutannya, Mohamad Irwan mengucapkan permohonan maaf. Hampir satu dekade ia berada di tengah-tengah masyarakat Sigi, memimpin dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
“Jika selama saya memimpin ada kata atau kebijakan yang kurang berkenan, saya mohon dimaafkan,” katanya.
Saat apel usai, banyak ASN yang tak mampu menyembunyikan haru. Beberapa terlihat menyeka air mata, menyadari bahwa sosok yang selama ini mereka kenal sebagai pemimpin kini akan melangkah pergi, meninggalkan jejak panjang dalam sejarah pemerintahan Sigi.
Momen itu bukan sekadar perpisahan, tetapi juga pengingat bahwa setiap pemimpin datang dan pergi, namun harapan untuk daerah ini harus tetap hidup dan terus diperjuangkan. (*)






