JOURNALRAKYAT.COM, SIGI – Camat Tanambulava, Suaib, mendorong agar program Forum Anak yang telah terbentuk di wilayahnya mendapat dukungan berkelanjutan dari pemerintah desa melalui alokasi dana desa.
Ia menilai, ketergantungan pada bantuan NGO (Lembaga Swadaya Masyarakat) selama ini belum menjamin keberlangsungan kegiatan anak-anak, terutama dalam mewujudkan desa ramah anak secara menyeluruh.
“Saat ini baru dua desa yang aktif memiliki Forum Anak, yaitu Sibalaya Utara dan Sibalaya Selatan. Program ini memang sudah berjalan, tapi masih ditopang oleh NGO. Kalau ke depan kita ingin mandiri dan berkelanjutan, maka harus mulai dianggarkan lewat dana desa,” ujar Suaib saat ditemui usai kegiatan Verifikasi Lapangan Hybrid (VLH) evaluasi Kabupaten Layak Anak di Kantor Bupati Sigi, Senin (2/6/2025).
Menurut Suaib, dua desa tersebut telah menunjukkan progres dengan membentuk ruang-ruang kreativitas seperti taman baca, Rumah Kencana sebagai ruang bermain anak, serta pelibatan anak dalam aktivitas seni, olahraga, dan kegiatan sosial lainnya.
Bahkan, beberapa anak di wilayah itu juga sudah dilibatkan dalam kegiatan musyawarah desa dan musrenbang kecamatan.
“Kami ingin anak-anak dilibatkan dalam proses pembangunan desa, minimal mereka tahu dan bisa menyampaikan ide atau harapan. Tapi tentu mereka butuh wadah, butuh pembinaan, dan yang paling utama, butuh anggaran untuk bisa jalan,” ungkapnya.
Dari lima desa yang ada di Kecamatan Tanambulava, lanjut Suaib, tiga di antaranya masih dalam tahap sosialisasi untuk membentuk Forum Anak.
Ia telah mendorong para kepala desa mengikuti pelatihan penguatan kapasitas tentang perlindungan anak bekerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A).
Namun tantangan utamanya tetap soal anggaran. Selama ini kegiatan Forum Anak di dua desa bisa berjalan lancar karena ada sokongan dari NGO mitra, termasuk pusat kajian perlindungan anak. Setelah kerja sama itu selesai, belum ada kepastian anggaran dari desa untuk melanjutkan program.
“Karena itu kami minta agar mulai tahun depan kegiatan Forum Anak masuk dalam perencanaan APBDes. Kalau tidak, program ini tidak akan berkembang. Harus ada keberpihakan dari desa,” tegas Suaib.
Ia juga menyinggung pentingnya ruang publik yang ramah anak dan kawasan tanpa rokok di layanan pemerintahan hingga tingkat desa. Menurutnya, anak-anak harus tumbuh dalam lingkungan yang sehat, aman, dan bebas dari paparan buruk, termasuk asap rokok.
“Kami sudah mulai sosialisasi larangan merokok di kantor-kantor pelayanan publik, dan menempelkan stiker di sejumlah ruangan. Ini langkah kecil, tapi penting untuk menciptakan lingkungan yang layak bagi anak,” tambahnya.
Camat Suaib berharap seluruh desa di Tanambulava dapat segera mengaktifkan Forum Anak dan menjadikannya bagian dari program prioritas.
Ia menegaskan bahwa pelibatan anak dalam pembangunan bukan sekadar simbolik, tapi bagian dari komitmen menciptakan generasi yang sadar, terlibat, dan dilindungi.
“Kalau tiga desa lainnya bisa menyusul, maka semua desa di Tanambulava bisa menjadi pelopor desa layak anak. Itu target kami,” tutupnya. (Angel)






