Founder Hannah Asa Indonesia Dorong Generasi Muda Kenal Wakaf Uang

Direktur Hannah Asa Indonesia, Mardiyah, saat menyampaikan materi mengenai wakaf uang dan pentingnya literasi keuangan berbasis nilai syariah kepada generasi muda di Sulawesi Tengah. (Foto/ist)

JOURNALRAKYAT.COM, PALU — Founder Hannah Asa Indonesia, Mardiyah, mengajak generasi muda untuk mulai memahami konsep wakaf sebagai bagian dari literasi keuangan dan filantropi Islam yang memiliki dampak jangka panjang bagi masyarakat.

Menurut Mardiyah, selama ini banyak orang masih memandang wakaf sebatas pada penyumbangan tanah atau pembangunan tempat ibadah. Padahal, konsep wakaf memiliki makna yang jauh lebih luas dan dapat dilakukan oleh siapa saja, termasuk anak muda.

Bacaan Lainnya

“Tiga tahun lalu ketika saya mulai membangun Hannah Asa Indonesia, saya punya satu mimpi sederhana. Bagaimana jika semakin banyak anak muda memahami bahwa kekayaan bukan hanya tentang berapa banyak yang kita hasilkan, tetapi juga tentang apa yang bisa kita tinggalkan untuk memberi manfaat bagi orang lain,” ujarnya pada Journalrakyat.com, Selasa (17/3/2026).

Ia menjelaskan, wakaf pada dasarnya adalah upaya menciptakan manfaat yang terus mengalir bagi masyarakat, bahkan ketika seseorang sudah tidak lagi berada di dunia.

“Wakaf adalah tentang menciptakan manfaat yang terus mengalir bahkan setelah kita tidak ada. Bagaimana harta yang kita miliki bisa menjadi warisan kebaikan yang terus memberi dampak bagi banyak orang,” katanya.

Mardiyah menambahkan, saat ini wakaf tidak lagi terbatas pada aset besar seperti tanah atau bangunan. Melalui skema wakaf uang, masyarakat dapat mulai berwakaf dari nominal yang relatif kecil.

Menurutnya, hal tersebut membuka peluang bagi generasi muda untuk terlibat dalam kegiatan filantropi sejak dini.

“Sekarang anak muda juga bisa mulai berwakaf, bahkan dari nominal kecil. Karena tujuan wakaf bukan sekadar memberi sekali, tetapi menciptakan manfaat yang terus berjalan untuk masyarakat,” jelasnya.

Ia menyebutkan, wakaf uang memiliki berbagai keutamaan, di antaranya pahala jariyah yang terus mengalir, dampak sosial dan ekonomi jangka panjang, serta sistem pengelolaan yang lebih fleksibel dan inklusif.

Selain itu, pengelolaan wakaf uang saat ini juga dilakukan secara profesional dan transparan sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

Sebagai informasi, Hannah Asa Indonesia merupakan lembaga edukasi keuangan independen yang berfokus pada peningkatan literasi keuangan, inklusi keuangan, serta perencanaan keuangan yang bertanggung jawab berbasis nilai syariah.

Lembaga ini lahir dari Sulawesi Tengah dan memiliki perhatian khusus pada edukasi pengelolaan keuangan bagi generasi muda. Hannah Asa Indonesia juga aktif menyelenggarakan berbagai program pendidikan keuangan di sekolah, perguruan tinggi, komunitas, hingga ruang digital.

Dalam tiga bulan pertama tahun 2026, Hannah Asa Indonesia telah menyelenggarakan 46 program edukasi literasi keuangan yang menjangkau 3.231 peserta melalui kegiatan pembelajaran secara luring maupun daring.

Melalui berbagai kegiatan literasi tersebut, Mardiyah berharap semakin banyak anak muda memahami bahwa pengelolaan keuangan tidak hanya bertujuan untuk mencapai kesuksesan pribadi, tetapi juga memiliki dimensi sosial dan spiritual.

“Saya percaya generasi filantropi berikutnya akan lahir dari anak-anak muda yang tidak hanya mengejar kesuksesan finansial, tetapi juga memahami tujuan dari keuangan itu sendiri,” pungkasnya. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *